HOME ยป POLITIK
POLITIK
Jum'at, 13 Oktober 2017 , 00:15:00 WIB

Merawat Kebhinnekaan Menuju Indonesia Emas 2045






RMOLJabar.  Bangsa Indonesia punya kemampuan karena memiliki Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika untuk merawat kebhinnekaan tanpa meninggalkan karakter, seperti yang terjadi di Myanmar, Palestina, dan Kosovo.

Demikian disampaikan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid saat menyampaikan orasi kebangsaan 'Merawat Kebhinnekaan dan Memajukan Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045' dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Graha Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (Umtas) Jawa Barat (Kamis, 12/10).

Dia menjelaskan, Sosialisasi Empat Pilar MPR adalah tuntutan reformasi dan sesuai amanat UU 17/2014 tentang MD3 yang memerintahkan pimpinan MPR mensosialisasikan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika kepada seluruh rakyat. Dan MPR sudah melaksanakan sosialisasi dengan bebagai metode seperti outbound, LCC, dan pertunjukan seni budaya.

Di hadapan para dosen dan mahasiswa Umtas, Hidayat menjelaskan bahwa Islam tidak pernah mendikotomikan antara urusan dunia dan akhirat.

"Para ulama pendiri bangsa belajar agama adalah juga untuk bagaimana mengurus kehidupan berbangsa dan bernegara," katanya.

Hidayat mencontohkan, dasar negara Pancasila dan seluruh undang-undang dasar, dari UUD 1945 hingga UUD NRI Tahun 1945 menyebutkan, Indonesia berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketika bangsa merdeka 17 Agustus 1945, Pancasila yang disepakati pada 22 Juni 1945 hasil rumusan tim sembilan.

"Mereka adalah dari golongan Islam," ujarnya.

Dalam Piagam Jakarta tersebut, Sila I Pancasila mengatakan, Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Namun pada hari selanjutnya, utusan masyarakat Indonesia bagian timur yang beragama non-Muslim menemui Mohammad Hatta menyatakan keberatan dengan Sila I itu. Setelah melakukan lobi-lobi akhirnya keberatan itu diterima sehingga Sila I Pancasila bunyinya seperti Pancasila saat ini.

"Tokoh-tokoh Islam mengakomodasi keberatan itu. Sila satu Pancasila yang disepakati selanjutnya akhirnya diterima semua kelompok," jelas Hidayat.

Ditambahkannya, Sila I Pancasila menunjukkan dasar negara menyatakan adanya relasi, hubungan, antara negara dan agama. Dikatakan, pendiri bangsa kita memikirkan bagaimana kita mempunyai sebuah negara Indonesia merdeka, tetapi juga berjalannya keberagamaan.

Dalam kesemptan itu, Hidayat mengungkapakan bangsa Indonesia pernah mengalami sejarah kelam yaitu terjadi pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan G30/S/PKI. Setelah PKI berhasil digagalkan upaya pemberontakannya, pada tahun 1966 melalui Sidang MPRS membuat satu Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang Di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia Dan larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan Atau Mengembangkan Faham Atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme.

Dalam akhir kata, Hidayat mengatakan, tantangan para pemuda sekarang sangat komplek. Untuk itu diharapkan dalam menjaga kebhinnekaan para pemuda terutama mahasiswa dapat menggunakan cara-cara yang pernah dilakukan para founding fathers yakni Pancasila.

"Dan kita harus mempelajari Pancasila dari keteladanan para pemimpin," tegasnya.  [rmol.co]





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :