HOME » SUDUT PANDANG
SUDUT PANDANG
Jum'at, 09 Februari 2018 , 03:01:00 WIB

Pancasila Dan Generasi Milenial






DALAM perjalanan awal sejarah Indonesia, Pancasila adalah unsur aktif yang mempersatukan warna politik, suku dan identitas keagamaan anak bangsa. Kelahiran Pancasila menjadi perekat dari sekat geografis, benturan ideologis dan kepentingan yang hadir di tengah kehidupan manusia Indonesia. Kelima sila yang dimuat Pancasila memberikan pengakuan kepada nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial. Tidak heran, meski sempat mengalami benturan kepentingan atas polemik sila pertama, berbekal kesungguhan hati dan kematangan sikap, masalah itu terselesaikan dan lahirlah Pancasia.

Ketika waktu terus berjalan, Pancasila semakin mendapatkan tempat tersendiri di hati setiap manusia Indonesia. Hal ini dapat dipahami, muatan Pancasila lahir dari falsafah hidup dan kepribadian asli manusia Indonesia. Tak ada manusia Indonesia yang tak bertuhan, semua berhak beragama dan tidak dibenarkan di Indonesia sikap antiagama. Kemanusiaan pula yang muncul setiap kita bicara persoalan yang terjadi di sekitar kita. Bukan sekedar kemanusiaan biasa, melainkan rasa menjadi manusia yang adil dan memiliki keadaban yang tinggi. Semua itu modal dasar membangun persatuan, sehingga di tengah homogenitas, nilai kedaulatan rakyat dapat terus tercipta. Semua semakin lengkap dengan keinginan yang kuat untuk menciptakan keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia.

Itulah nilai luhur Pancasila, yang belakangan ini terasa semakin pudar. Kita bisa menilai lemahnya nilai Pancasila karena kesalahan masa lalu. Para pemimpin sejak Orde Baru sampai Reformasi, sibuk menjadikan Pancasila sebagai alat kekuasaan, sangat mudah pemimpin menafsirkan Pancasila menurut kepentingan dan ambisinya. Dapat pula kita berpijak bahwa hilangnya Pancasila karena kurangnya kesadaran membangkitkan ideology Pancasila. Setelah model penataran P4 menghilang, masyarakat terkesan meninabobokan Pancasila, sekedar menghafal ketika upacara bendera tanpa mampu mengamalkannya dengan baik.

Mengapa Pancasila Dilupakan?

Makin minimnya pengamalan nilai Pancasila tentu sangat meresahkan semua anak bangsa. Pembiaran atas kondisi ini, apalagi jika sampai melanda anak muda sebagai generasi penerus bangsa berpotensi membawa Indonesia menjadi negara kehilangan pegangan atas ideologinya. Kondisi bisa semakin kritis, melihat apa yang terjadi belakangan ini dimana munculnya pengaruh paham keagamaan pada tingkatan ekstrem, dimana ada kelompok keagamaan yang ingin mengganti Pancasila dan meniadakan NKRI, kemudian menggantinya dengan khilafah. Tak kalah mengkhawatirkan, potensi gerakan radikalisme yang terus menggerus Pancasila yang ironisnya menarik minat kalangan muda.

Kita memang sudah sepakat memiliki ideologi Pancasila dan meyakini Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk final untuk Indonesia yang sangat majemuk. Tapi belakangan ini, muncul gerakan yang ingin meniadakan dua konsep luhur warisan pendiri bangsa itu. Meski organisasi itu sudah dibubarkan pemerintah, tapi pengikutnya masih menyebarkan syiar menuntut Indonesia berdiri di atas landasan khilafah. Ironisnya semakin kencang mereka berteriak, penolakan semakin banyak bermunculan mulai dari kalangan Islam moderat sampai generasi muda.

Mengutip survei Center for Strategic and Internasional Studies ( CSIS), diketahui bagaimana sesungguhnya sikap generasi milenial (17-29 tahun) terkait ideologi Pancasila. Hasil survei yang dilakukan 23-30 Agusutus 2017 tersebut mayoritas generasi milenial tidak setuju apabila idelogi Pancasila diganti. Sebanyak 90,5 persen dari mereka (generasi milenial) tidak setuju idelogi Pancasila diganti  Dalam survei terhadap 600 responden itu terungkap pula bahwa hanya 9,5 persen generasi milenial yang setuju apabila ideologi‎ Pancasila diganti.

Mengenai radikalisme, kalangan muda merupakan kelompok usia yang rentan terpengaruh gerakan radikalisme semacam ISIS. Ini bisa dilihat bahwa kalangan muda sangat akrab dengan teknologi, sementara pemakaian teknologi sering dipakai kelompok keagamaan radikal untuk merekrut kadernya. Selain itu kondisi kejiwaan anak muda yang labil, jika tidak dibentengi pemahaman Islam moderat dan nilai luhur Pancasila yang mendukung kebhinekaaan berpotensi melahirkan anak muda berfikir radikal. Sehingga tepat kiranya, untuk memperhatikan bagaimana menciptakan konten tandingan dengan pemanfaatan teknologi yang mendorong sikap moderat dan berjiwa keIndonesiaan di kalangan generasi muda.

Keteladanan, Pendidikan dan Teknologi

Untuk menangkal itu semua, penting bagi pemerintah dan semua elemen bangsa untuk terus menghidupkan dan memassifkan gerakan mencintai Pancasila. Penulis melihat, gerakan cinta Pancasila khususnya terhadap generasi milenial dapat mengacu kepada keteladanan, pendidikan dan teknologi. Pancasila untuk generasi milenial tidak lagi berpatokan kepada indoktrinasi, melainkan kesungguhan menghidupkan nilai keteladanan para pahlawan bangsa. Perlu diciptakan figur manusia Pancasilais masa lalu dan masa sekarang.

Generasi milenial perlu diajarkan bagaimana keteladanan Soekarno dan Natsir, dua figur pemimpin bangsa yang pernah berpolemik keras mengenai isu negara dan agama. Tapi keduanya mampu sejalan seiring ketika masuk dalam struktur pemerintahan negeri ini. Meski memimpin organisasi muslim besar yaitu Masyumi, tak pernah ada terbersit niat di hati Natsir mengganti ideology Pancasila. Justru pemikiran NKRI dan Pancasila merupakan bagian dari buah pemikirannya bersama tokoh bangsa. Keteladanan serupa diperlihatkan tokoh Katolik, IJ Kasimo yang selama hidupnya menghendaki Indonesia bukan sebagai negara agama, melainkan negara yang memayungi semua pemeluk agama.

Itu keteladanan pemikir dan pahlawan bangsa di masa lalu. Masa sekarang, perlu dipikirkan bagaimana menciptakan keteladanan zaman Now, baik dari kalangan tokoh masyarakat, agama, pemimpin negara, pengusaha dan seniman yang berjiwa rasa Pancasilais. Keteladanan itu mutlak dibutuhkan dalam mengajak anak muda mengikuti jejak tokoh pujaannya. Sehingga nilai positif Pancasila, Indonesia, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika masuk meresap, menjiwai dan jadi kepribadian pemuda Indonesia. Terpenting, perlu ada praktik keteladanan zaman Now atas nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial.

Sarana pendidikan mulai level usia sekolah dasar sampai perguruan tinggi sangat efektif melahirkan generasi muda Pancasilais. Khusus perguruan tinggi, pembangunan karakter manusia Indonesia berjiwa Pancasila dapat dibangun dengan dialog dan pemikiran kritis. Mahasiswa tidak lagi didoktrinasi melainkan dibangun upaya dialog mengenai pentingnya Pancasila, sejarah dan bagaimana realisasi dalam kehidupan keseharian mereka. Tak kalah penting, mahasiswa bisa diajarkan berdebat secara ilmiah, logis, argumentatif dan kritis mengenai mengapa Pancasila dilupakan dan mengajak partisipasi aktif mahasiswa untuk menghidupkan Pancasila. Pengemasan kegiatan lapangan dan metode pembelajaran yang kreatif sangat mendukung hasil akhir pembelajaran Pancasila, sehingga kegiatan pembelajaran tidak selalu berbentuk ceramah saja.

Munculnya teknologi adalah alat efektif 'memikat' generasi milenial untuk terus bergerak memahami dan mengamalkan Pancasila. Adanya Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP)  perlu memunculkan gagasan menggaet milenial melalui kerja-kerja dunia maya.

Pembuatan konten positif Pancasila atau aplikasi games Salam Pancasila misalnya dapat menjadi permainan mengasyikkan untuk mengenalkan Pancasila kepada anak muda. Kuliah Pancasila melalui kultwit, infografis seputar Pancasila melalui instagram, kerjasama dengan Line untuk pembuatan fitur promosi Pancasila dapat juga dicoba sebagai metode untuk mendekatkan Pancasila kepada generasi milenial. Media sosial sebagai 'makanan sehari-hari' anak muda dapat dikembangkan sebagai sarana pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan seputar Pancasila.[***]

Inggar Saputra
Pengajar Pancasila Universitas Mercubuana dan Universitas Jakarta





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :