HOME ยป POLITIK
POLITIK
Senin, 12 Februari 2018 , 14:47:00 WIB

Pesta Demokrasi Sama Dengan Pesta Pernikahan

Laporan: Yudha Satria




RMOLJabar. Di Indonesia Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) atau Perhelatan Politik lainnya sering disebut dengan pesta demokrasi. Padahal sebetulnya ada yang salah dari makna "pesta demokrasi" ini.

Begitu dikatakan, Guru Besar Komunikasi Politik UIN SGD Asep Saiful Muhtadi, saat berbincang dengan wartawan RMOLJabar, Senin (12/2).

Ia menganalogikan pesta demokrasi itu sama dengan pesta pernikahan. Misalnya kata dia, di pesta pernikahan kita datang memakai baju yang bagus dan rapih, mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan makan di pesta pernikahan tersebut.

"Kita tidak mengikuti proses dari Pesta Pernikahan tersebut, misalnya, kita tidak ikut memasak, menucui piring, bahkan kita pun tidak ikut menikmati malam pertamanya," tuturnya.

Sama juga halnya dengan, pesta demokrasi kata dia, kita datang ke TPS, lantas mencoblos dan kemudian kita pulang kembali kerumah masing-masing. Dan kemudian kita tidak menikmati hasil dari Demokrasi tersebut.

"Jadi di Indonesia itu bagus disebut dengan pesta politik, dan hal itu tidak benar, kita datang ke pesta pernikahan kita datang pakai baju bagus, makan terus pulang, dan yang malamnya mereka aja ya. Kita tidak ikutan cuci piring tidak ikut masak tidak ikut menikmati malam, dan lantas kita pulang," kata dia.

Pesta Demokrasi juga sama, sambung dia, masyarakat datang ke TPS ikut memilih. Setelah itu pulang.

"Tidak ikut-ikutan lagi ini cocok juga disebut pesta demokrasi," tambahnya.

Seharusnya yang digaungkan di masyarakat itu bukan pesta demokrasi akan tetapi proses demokrasi, sehingga masyarakat akan ikut bersama-sama dalam mengawal kontestasi politik di Indonesia ini.

"Ya beginilah karena kualitas masyarakat di kita semuanya belum pada tahap pemilu yang dengan memaki sistem demokrasi," pungkasnya. [nif]





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :