HOME » KANG DEDI
KANG DEDI
Senin, 02 April 2018 , 06:47:00 WIB

Dedi Mulyadi Didaulat Kiai Sepuh Cirebon untuk Naik Kereta Paksi Naga Liman

Laporan: Yuslipar




RMOLJabar. Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi didaulat para kiai pesantren Kabupaten Cirebon untuk naik Kereta Paksi Naga Liman.

Peristiwa tersebut terjadi saat mantan Bupati Purwakarta itu menghadiri undangan peringatan Isra’ Mi’raj. Tepatnya, di Pondok Pesantren Raja’ul ‘Ulum Hidayah al Isma’iliyah, Kabupaten Cirebon, akhir pekan lalu.

Sesuai dengan namanya, kereta kencana sarat nilai sejarah itu memiliki bentuk berupa gabungan tiga hewan. Yakni Paksi (Garuda), Naga (Ular Naga) dan Liman (Gajah). Pada bagian liman, terdapat trisula yang melilit dengan gaya siap menyerang.

Trisula tersebut merupakan lambang Iman, Islam dan Ihsan dalam Agama Islam. Syaikh Datuk Kahfi dan Sunan Gunung Jati berada di garda terdepan penyebaran Agama Islam di daerah tersebut.

Kereta ini hanya replika dan memiliki sejarah panjang bagi Cirebon. Aslinya sudah udzur dimakan usia, ada di keraton,” kata Kiai Asep sebelum meminta Dedi Mulyadi naik kereta kencana tersebut.

Kiai Asep merupakan salah satu pengasuh pondok pesantren yang menggelar acara pada malam tersebut. Darah keraton yang mengalir dalam dirinya membolehkan dia untuk ikut merawat kereta tersebut setiap Bulan Rajab tiba.

Selain diasuh oleh Kiai Asep, para santri di pesantren itu juga dimomong oleh Kiai Muhammad dan Kiai Bunyamin.

Berdasarkan keterangan Kiai Asep, kereta milik Sunan Gunung Jati tersebut dikeluarkan saat Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Selain itu, peringatan khusus yang digelar oleh Keraton Cirebon juga mengharuskan arak-arakan yang diikuti kereta tersebut.

Hari-hari besar Islam seperti ini pasti Kereta Paksi Naga Liman diarak. Di Cirebon, setiap pesantren yang masih memiliki hubungan darah dengan keraton pasti punya kereta kencana. Seperti di sini dan Pesantren Benda Kerep,” katanya.

Seizin kiai pesantren, Dedi Mulyadi bersama Gus Zydni, putera Kiai Muhammad yang baru saja dikhitan menaiki Kereta Paksi Naga Liman. Mereka berdua diarak berkeliling dan mengundang perhatian warga sekitar.

Kehadiran Dedi Mulyadi sebagai salah satu kader terbaik Nahdlatul Ulama rupanya sudah direncanakan jauh hari oleh keluarga pesantren. Jalinan silaturahmi yang sudah lama tersambung menjadikan Dedi akrab dengan putera bungsu Kiai Muhammad, Gus Zydni.

Bocah berusia 6 tahun tersebut ternyata hanya mau dikhitan, jika Dedi Mulyadi hadir mendampinginya dalam arak-arakan. Beberapa minggu lalu, Dedi berjanji hadir untuk memenuhi permintaan tersebut.

"Ya, hadir disini atas permintaan anak bungsu Pak Kiai, mau disunat kalau saya temani arak-arakan katanya," ujar Dedi.

Sebagai tokoh Jawa Barat, Dedi Mulyadi memiliki pandangan strategis atas peristiwa kultural yang baru saja ia alami. Baginya, arak-arakan pengantin sunat maupun Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di Cirebon dapat menjadi wisata budaya andalan.

Berbagai langkah diakuinya sudah disiapkan untuk hal tersebut, diantaranya dengan cara merawat berbagai produk budaya agar tetap lestari. Selain itu, manajemen kekinian harus disiapkan agar wisata budaya mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar.

"Ini salah satu produk kebudayaan yang harus lestari. Ke depan, Kereta Paksi Naga Liman harus ada replika baru, agar kereta asli tetap terjaga. Momentum seperti ini harus terkelola sebagai wisata budaya agar masyarakat sekitar mendapatkan manfaat," pungkasnya. [jar]





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :