HOME ยป POLITIK
POLITIK
Senin, 16 April 2018 , 00:01:00 WIB

Masjid Raya At-Taqwa Cirebon Dalam Kancah Dakwah Asia Tenggara

Laporan: Ahyaruddin Asep




RMOL. Perwakilan pendakwah dari berbagai negara pada 11-12 April 2018 lalu berkumpul dalam forum bertajuk 'Muzakarah Pendakwah Asia Tenggara'. Acara berlangsung selama 3 hari di Kuala Lumpur dan dihadiri oleh perwakilan 12 Negara, 10 Negara Asean dan 2 Negara lain (Hongkong dan Australia).

Acara tersebut diselenggarakan oleh Majlis Dakwah Negara (MDN) Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (YADIM) dan Persatuan Ulama Malaysia.

Kepada kantor berita RMOL Jabar, Drs. H. Ahmad Yani, M.Ag Ketua At-Taqwa Centre kota Cirebon yang juga selaku Ketua Delegasi Indonesia dari Kota Cirebon menjelaskan bahwa At-Taqwa telah tergabung dalam Forum Dakwah Asia Tenggara sejak 4 tahun yang lalu.

Ketergabungan itu, sebut pria yang karib dipanggil Kang Yani ini, berawal dari undangan beberapa kegiatan yang diselenggarakan di negara-negara Asia Tenggara. Pertama, Pelatihan Imam Masjid oleh Institut Latihan Islam Malaysia (ILIM) Slangor Malaysia tahun 2014.

Kedua, lanjut Kang Yani, Rapat Koordinasi Forum Silaturrahim dan Kemakmuran Masjid Serantau (FORSIMAS) di Kedah Malaysia (2015). Ketiga, sebagai Peserta Asian Mosque Festival (AMF) di Kuala Lumpur (2015).

Keempat, ialah Ifthar Dinner bersama PM Techo Hun Sen-PhenomPhen Cambodia (2016). "Dan tahun ini (2018) sebagai Delegasi Forum Pendakwah Asia Tenggara," papar Kang Yani malam ini, Minggu (15/4).

Dijelaskan Kang Yani, pertemuan kali ini (2018) tepatnya digelar di Premiera Hotel Kuala Lumpur dan membahas tentang perkembangan situasi dan kondisi umat Islam di setiap negara, tantangan-tantangan yang dihadapi, serta rencana pengembangan program dakwah yang ideal.

"Hadir dalam pertemuan, 10 perwakilan Anggota Negara ASEAN; Malaysia, Indonesia, Brunai Darussalam, Kamboja, Laos, Vietnam, Singapura, Philipina, Thailand, dan Myanmar. Ditambah 2 negara lain; Hongkong dan Australia. Adapun delegasi Indonesia mendapat kuota paling banyak, yaitu 20 orang; Jawa Barat, Jakarta, Surabaya, Aceh, Batam, Riau, dan Sulawesi," sebut Kang Yani.

Menurut Kang Yani, permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam di setiap negara, pada umumnya hampir sama, baik secara internal maupun eksternal.

"Secara internal, umat Islam masih dihadapkan pada masalah-masalah terkait ekonomi, pendidikan, dan persaudaraan, dan etos kerja. Dan secara eksternal, umat Islam juga harus berjuang keras menghadapi serangan-serangan dari luar yang berupaya menghancurkan umat Islam dengan berbagai cara," urainya.

Pada bagian lain, Kang Yani mengemukakan, pertemuan ini kembali mengingatkan bahwa masjid harus menjadi basis untuk membangun kekuatan umat Islam.

"Dr. Mohammad Nawar Arifin Wakil FORSIMAS Malaysia menegaskan, masjid harus menjadi pusat berkumpulnya massa, pusat organisasi, pusat kajian, dan juga pusat membangun emosional-spiritual," kata Kang Yani.

"Dr. Mohamammad Nawar Arifin memaparkan pengalamannya bagaimana mengoptimumkan fungsi masjid sebagai pusat dakwah di Asia Tenggara," katanya lagi.

Atas kondisi demikian, Kang Yani melihat tantangan umat Islam demikian besar, maka kegiatan dakwah tidak mungkin dilakukan paruh-waktu (half-time).

"Kegiatan dakwah perlu dilakukan serius, fokus, dan penuh-waktu (full-time). Selain itu, kegiatan dakwah juga harus dilakukan secara kolaboratif, bersinergi, dan terhubung (inter-conecting) dengan orang atau organisasi lain," terangnya.

Lebih lanjut Kang Yani mengatakan, selaras dengan itu, Masjid Raya At-Taqwa (MRA) Kota Cirebon terus mengembangkan kolaborasi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, perusahaan, dan juga pemerintah.

"Kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh setiap elemen tersebut terbukti telah membuat MRA semakin kuat dan berkembang pesat," ujar Kang Yani.
 
Tak hanya itu, pada pertemuan tersebut juga membicarakan tentang nasib muslim minoritas seperti di negara Kamboja yang hanya sekitar 6%. Walapun mereka dapat mendirikan beberapa madrasah, masjid dan yayasan, namun program-program mereka mengalami kendala finansial yang cukup besar.

"Mereka sangat miskin. Gaji para tenaga pengajar tidak mencukupi kebutuhan keluarganya," ungkap Kang Yani.

Belum lagi, sambungnya, sebagian kurikulum pendidikan di beberapa sekolah agama di negara Kamboja, sangat kurang dan tidak baku. Kaum Muslimin Kamboja juga belum memiliki media informasi sebagai ungkapan dari identitas mereka.

"Kondisi ini menantang kaum muslimin dunia khususnya Asia Tenggara untuk mengembangkan luasan wilayah dakwahnya," tegasnya.

Dikemukakannya, melalui pertemuan tersebut, kemudian negara-negara Islam Asia Tenggara menyepakati rencana untuk membangun program-program dakwah secara kolaboratif, yang jangkauannya tidak terbatas pada wilayah Asia Tenggara, namun juga internasional.

"Dan, MRA Kota Cirebon sebagai salah satu wakil dari Indonesia, bertekad untuk terus terlibat aktif dalam kancah dakwah dunia," sebutnya.

Masih menurut Kang Yani, keterlibatan At-Taqwa Centre dalam kancah dakwah Asia Tenggara terutama menjadi anggota aktif FORSIMAS sangatlah bermanfaat. Selain untuk perluasan jaringan dakwah dan silaturrahim Masjid Raya At-Taqwa (MRA) di forum ASEAN, juga untuk kota Cirebon, Ciayumajakuning, dan bahkan Jawa Barat.

Disebutkannya, saat ini masjid Agung di Jawa Barat yang tergabung secara aktif dalam FORSIMAS adalah MRA dan Masjid Raya Provinsi Jawa Barat (Bandung). Melalui jaringan ini, MRA sempat mendapatkan kunjungan studi banding dari Kinabalu Malaysia (2016) dan juga ketua FORSIMAS Malaysia sekaligus Ketua Pemuda Masjid ASEAN, Dr. Mohammad Nawar Ariffin (2017).

"Hikmahnya sangat banyak, mulai dari mengenal model dan karakter dakwah masing-masing negara Asia Tenggara, hingga meningkatkan ukhwah serta pentingnya soliditas dan kerjasama dalam pelaksanaan dakwah Islam di Asia Tenggara. Dan ini poin penting dalam kegiatan tersebut," beber Kang Yani.

Turut mendampingi Kang Yani sebagai delegasi kota Cirebon Ust. M. Taufik (wakil Ketua III), Budi Manfaat (Bidang Kajian), Hj. Ayi Nining (Ketua Bidang Pemberdayaan Muslimah) serta Ust. Toto Warsito (Wakil Direktur Titian Mulia Institute). [jar]





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :